Feeds:
Tulisan
Komentar

Pernyataan Sikap

ALIANSI PEMUDA MAHASISWA PANTAI BARAT-SELATAN

Mencermati kondisi Aceh khususnya wilayah Pantai Barat-Selatan Provinsi Aceh yang semakin tertinggal dan alot dengan berbagai permasalahan terutama dibidang pembangunan, telah membangkitkan gerakan pro dan kontra yang merongrong dan menggiring masyarakat wilayah Pantai Barat-Selatan Provinsi Aceh secara totalitas dalam keadaan yang sangat teracam, baik dari segi sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan budaya, sehingga konflik horizontal tidak mungkin lagi dibendung. Pemberontakan terhadap berbagai tuntutan akan kesejahteraan rakyat terus digulirkan oleh kepentingan segelintir elit maupun kepentingan komunitas tertentu terhadap kekuasaan rakyat di wilayah Pantai Barat-Selatan Provinsi Aceh. Kepemimpinan drh. Irwandi Yusuf, M.Sc dan Muhammad Nazar, S.Ag (Gubernur/Wakil Gubernur Pemerintahan Aceh) belum ada program yang strategis untuk mensejahterakan rakyat wilayah Pantai Barat-Selatan Provinsi Aceh, sehingga membuat kekecewaan masyarakat wilayah Pantai Barat-Selatan Provinsi Aceh terhadap orang nomor satu di provinsi ini semakin memanas. Lanjut Baca »

Pernyataan Sikap

Mahasiswa Cinta Abdya (MaCinda)

“Save the Abdya”

Mencermati kondisi kabupaten Aceh Barat Daya yang semakin kritis dan alot dengan berbagai permasalahan yang diakibatkan oleh kepentingan segelintir elit maupun kepentingan komunitas tertentu terhadap kekuasaan rakyat di Abdya, telah membangkitkan gerakan pro dan kontra yang merongrong dan menggiring masyarakat Abdya secara totalitas dalam keadaan yang sangat teracam, sehingga konflik horizontal tidak mungkin lagi dibendung. Pemberontakan terhadap kepemimpinan Akmal Ibrahim dan Syamsul Rizal (Bupati/Wakil Bupati Abdya) terus digulirkan oleh kelompok masyarakat Abdya yang merasa kecewa dengan kebijakan yang diambil oleh orang nomor satu di daerah ini, sehingga telah membangkitkan kelompok yang pro terhadap pemerintahan Akmal Ibrahim dan Syamsul Rizal (Bupati/Wakil Bupati Abdya). Kondisi ini berdampak pada rusaknya tatanan kehidupan sosial bermasyarakat di kabupaten Abdya. Kemiskinan akan menjadi konsumsi empuk untuk mengatakan “mereka perlu diberdayakan” dari segala aspek kehidupan yang melingkupinya.. Keadilan menjadi hal yang begitu mahalnya sekarang, ketika pemimpin memainkan pola kepemimpinan yang sarat dengan kepentingan kelompok tertentu, sehingga menyisihkan kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Lanjut Baca »

Gerakan Muda Pembaharuan Susoh Aceh Barat Daya (GMPS) &

Forum Mahasiswa Pasca Sarjana Aceh Barat Daya (FoMPas)

Sekretariat: Kompleks Perumahan Dosen Unsyiah Bloc. B No. 54 Banda Aceh Cp: 081360096773-085260004045

JANGAN RUSAK PERDAMAIAN DI ACEH

Bencana tsunami yang begitu dahsyat masih belum terlupakan dari memori masyarakat Aceh khususnya kawasan Pantai Barat-Selatan yang merupakan daerah terparah terkena bencana di akhir tahun 2004 lalu. Rekontruksi pasca bencanapun masih belum maksimal bahkan sangat jauh dari apa yang kita harapkan, sehingga diperlukan tenaga ekstra dan kerjasama yang aktif dari semua pihak untuk kembali memulihkan kondisi seperti sediakala (kalau pun tidak menjadi lebih baik). Lanjut Baca »

KATAK DALAM TEMPURUNG

(Sebuah Tinjauan Perkembangbiakan KATAK)
Oleh: de_LIMA (Aktivis Peduli Cangguk)

Sering kita mendengar dalam masyarakat kita istilah “ katak dalam tempurung “, yaitu istilah yang menggambarkan keadaan dimana seseorang kurang memiliki akses terhadap informasi atau kurang memiliki wawasan. Hal ini kurang lebih sama seperti kondisi yang dialami oleh sebahagian masyarakat kita yang berada di daerah pedalaman.

Kondisi tersebut setidaknya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, rendah kualitas pendidikan, kemiskinan dan keterbelakangan. rendahnya kualitas pendidikan salah satu penyebabnya adalah pemerintah tidak memberika perhatian khusus kepada mereka, entah itu karena tidak mempunyai anggaran yang cukup atau memang mereka tidak terlihat karena berada “dibawah tempurung”.

Padahal dipusat ibu kota, apakah itu ibu kota propinsi, kabupaten atau kota, sarana dan prasarana pendidikan sudah agak lumayan bahkan ada sekolah-sekolah khusus seperti sekolah unggul, kejuruan dan sebagainya dan mungkin hanya diperuntukan juga kepada “orang khusus” dan “orang unggul” pula. Lanjut Baca »

Oleh: Zulkpli R. Angkop

(Mahasiswa Pasca Sarjana IESP Unsyiah & Ketua HMI Cab. Banda Aceh periode 2006-2007 )

Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu kabupaten baru di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Barat melalui Undang-Undang Nomor 04 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Benar Meriah, Nagan Raya dan Aceh Tamiang. Pada awal pemekaran, Kabupaten Nagan Raya memilki lima kecamatan yaitu Kecamatan Darul Makmur, Beutong, Seunagan, Kuala dan Seunagan Timur, namun pada awal tahun 2008 terjadi pemekaran kecamatan yaitu Kecamtan Tadu Raya, Kuala Pesisir dan Suka Makmue.

Dalam struktur Pemerintahan Kabupaten Nagan Raya, permasalahan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) menjadi tugas Dinas Sosial dan Keluarga Sejahtera. Oleh karena itu, pemberdayaan Komunitas Adat Terpencil (KAT) sebagai bagian dari PMKS menjadi tugas Dinas Sosial dan Keluarga Sejahtera. Adapun persebaran KAT di Kabupaten Nagan Raya meliputi Kecamatan Darul Makmur, Kuala dan Beutong.

Komunitas Adat Terpencil sebagai bagian dari penduduk Indonesia merupakan “lapisan paling bawah” dalam perkembangan masyarakat Indonesia, karena Komunitas Adat terpencil menghadapi berbagai ketertinggalan dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan dasar hidup manusia. Hal tersebut akibat keberadaan mereka yang secara geografis sangat sulit dijangkau dan secara sosial budaya terasing sehingga kurang terjadi interaksi sosial antara mereka dengan kelompok masyarakat luar yang lebih maju.

Pemberdayaan Komunitas Adat terpencil tidak dapat disamakan dengan pemberdayaan masyarakat pada umumnya karena permasalahan sosial yang dihadapi sifatnya sangat kompleks meliputi berbagai segi kehidupan dan penghidupan. Pemberdayaan KAT merupakan satu bentuk komitmen pemerintah dalam mewujudkan amanah UUD 1945 untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

Gambaran Umum KAT di Nagan Raya

Pesebaran KAT di Kabupaten Nagan Raya meliputi Kecamatan Kuala yaitu di Alue Jok (37 KK), Kecamatan Darul Makmur yaitu di Pucok Lamie (112 KK) dan Alue Waki /Gunong Kong (276 KK) dan Kecamatan Beutong yaitu di Blang Aman Tadu (79 KK). Komunitas Adat Terpencil di Kabupaten Nagan Raya berasal dari suku asli Aceh dan Gayo yang menempati habitat perhutanan di pedalaman tiga kecamatan tersebut ( Dinsos Prov. NAD dan Dinsos dan KS Nagan Raya : 2002)

Ketergantungan pada sumber daya alam menjadi ciri khas kehidupan Komunitas Adat Terpencil di Nagan Raya, walupun demikian kehidupan KAT tidak lagi berpindah-pindah. Mereka sudah menetap pada lokasi tertentu yang sudah berlangsung lama. Interaksi dengan masyarakat luar jarang terjadi yang mengakibatkan mereka bukan hanya terisolir dari segi geografis namun juga terisolir secara kultural.

Dalam hal memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat Komunitas Adat Terpencil sudah mempunyai lahan persawahan. Namun pola dalam penggarapannya masih sangat tradisional dan tergantung pada alam dimana hasil produksinya hanya untuk menutupi kebutuhan keluarga (pertanian subsisten) sehingga kekurangan bahan pangan sering kali terjadi.

Komunitas Adat Terpencil di Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu elemen masyarakat yang terkena dampak langsung konflik berkepanjangan di Aceh, secara riil berdasarkan laporan masyarakat dan evaluasi yang dilakukan oleh Dinas Sosial, menyatakan bahwa keseluruhan rumah yang telah dibangun oleh kantor Wilayah Departemen Sosial Propinsi Daerah Istimewa Aceh pada tahun 1987-1989 dibakar oleh OTK. Sehingga sampai saat ini belum semua warga belum mendapatkan tempat tinggal baru sebagai pengganti. Disamping itu, kondisi wilayah yang sangat terpencil menyebabkan munculnya berbagai permasalahan sosial lainnya, seperti kemiskinan, ketelantaran, tingginya angka kematian ibu dan bayi, tidak tersedianya fasilitas kesehatan dan pendidikan yang memadai adalah realita yang tidak ternafikan. Lanjut Baca »

Awalnya………

Berawal dari sebuah kesusahan

Hatiku penuh dengan kegundahan dan kerisauan

Dalam kesunyian malam yang amat dingin

Kucoba tuk berfikir dengan baik demi kugapai cita-citaku

Ayahanda dan Ibunda Tersayang…….. Lanjut Baca »

Dear… ciNtaku..

Salam kasih sayang…

Salam cinta…

Salam kebahagiaan…

Salam kerinduan…

TENANGLAH hatiku, kerana langit tak pun mendengar…
Tenanglah, kerana bumi dibebani dengan ratapan kesedihan.
Dia takkan melahirkan melodi dan nyanyianmu.
Tenanglah, kerana roh-roh malam tak menghiraukan bisikan rahsiamu,

dan bayang-bayang tak be rhenti dihadapan mimpi-mimpi.
Tenanglah, hatiku. Tenanglah hingga fajar tiba, kerana dia yang menanti pagi dengan sabar akan menyambut pagi dengan kekuatan. Dia yang mencintai cahaya, dicintai cahaya.
Tenanglah hatiku, dan dengarkan ucapanku. (Khalil Gibran 1833-1931)
Lanjut Baca »

OLEH : I D R I S

(Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Banda Aceh Periode 2006-2007)

Kilas Balik..,

Sejarah mungkin berulang. Ketika seorang Jenderal besar berbicara yakni Jenderal Soedirman mengatakan “HMI bukan saja Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia” itulah secerca harapan yang hendak penulis coba paparkan lewat tulisan ini, dimana ketika pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beberapa puluh tahun yang silam menjadi harapan masyarakat Indonesia ketika perlawanan megusir penjajah dari bumi Ibu Pertiwi. Kader HMI yang dari dulu sampai dengan sekarang telah ikut berperan aktif diberbagai lapisan kehidupan masyarakat serta memberi kontribusi yang sangat besar pengaruhnya terhadap pembagunan di negeri ini yang tidak bisa dilupakan begitu saja dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Lembaga yang telah banyak melahirkan para cendikiawan yang berfikir kearah perubahan ini dididik dari berbagai disiplin ilmu yang didapatkan dari perguruan tinggi yang merupakan almamaternya pertama, dan HMI sendiri sebagai almamaternya yang kedua tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya begitu saja terhadap kemajuan umat hari ini.

Baik orang dalam maupun luar mengakui bahwa kader HMI adalah sosok anak negeri yang banyak menjawab berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi oleh bangsa ini. Bulan Mei mendatang kita akan memperigati sewindu reformasi (Mei 1998-Mei 2006) apa yang telah kita capai selama delapan tahun reformasi di negeri kita Indonesia. Praktik bisnis yang curang, penegakan hukum yang berat sebelah alias pincang ibarat pisau tajam kebawah tumpul keatas, perawatan kesehatan yang asal-asalan, pendidikan yang tidak bermutu, eksploitasi keuangan yang mengatas namakan biokrasi, penjarahan terhadap lingkungan hidup, pembengkakan terhadap pengangguran, dan persoalan yang paling berat saat ini yang dihadapi oleh bangsa kita adalah persolan kemiskinan.

Lanjut Baca »

Gambaran Umum
Manusia adalah khalifah dimuka bumi, dimana agama Islam memandang bahwa bumi dengan segala isinya merupakan amanah Allah SWT kepada sang khalifah agar dipergunakan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah SWT memberikan petunjuk melalui para rasul-Nya. Nabi Muhammad SAW merupakan rasul Allah, mendapat petunjuk dari-Nya meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan umat, baik aqidah, akhlak, maupun syari’ah. Aqidah dan akhlak bersifat konstan, keduanya tidak mengalami perubahan apapun dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun syari’ah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat.
Agama sebagai the way of life (pandangan hidup) mampu memberikan jawaban setiap persoalan-persoalan yang muncul dalam kehidupan. Syari’at Islam merupakan syariah yang dibawa oleh rasul terakhir mempunyai keunikan tersendiri, dimana syariah ini bukan saja menyeluruh atau komprehensif, tetapi juga universal. Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah). Universal bermakna syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai hari akhir nanti. Lanjut Baca »

Mahasiswa Dalam Ranah Pergerakan
Penulis: Idris,SHI
(Tulisan ini pernah dimuat pada rublik Opini Harian Serambi Indonesia pada tanggal 31 Juli 2007)

Tuntutan mahasiswa juga tuntutan rakyat, karenanya tuntutan tersebut tidak bersifat praktis dan jauh pula dari maksud mengejar kepentingan pribadi, karena itu pula tidak tergolong politik praktis” (Delier Noer).
Agen pembaruan dan kontrol sosial, adalah kalimat yang melekat pada mahasiswa, identik dengan kelompok muda berpendidikan, benarkah? Katanya; mahasiswa juga kelompok yang peka terhadap kondisi masyarakat, apakah itu benar? Jawabannya benar, itu kalau kita melihat mahasiswa tempoe doeloe; tidak benar untuk mahasiswa sekarang yang eklusif, apatis, dan hedonisme. Suatu kekawatiran yang dilontarkan M Jais Rambong (Serambi, kolom opini, Rabu/4/7/2007).
Mahasiswa mempunyai sejarah perjuangan panjang. Komponen mahasiswa adalah orang-orang berpendidikan tinggi dan mempunyai tanggungjawab besar terhadap masyarakat. Mahasiswa dianggap bergensi, penuh nuansa intelektual, bebas dan tidak absen dalam setiap gejolak perubahan sosial yang terjadi di negaranya. Tri dharma perguruan tinggi, menjadi pilar gerakan mahasiswa. Pendidikan (education), dituntut mahasiswa untuk mampu mentransformasikan ilmunya kepada masyarakat, melakukan penelitian terhadap objek yang ingin dikaji serta pengabdian terhadap masyarakat.
Irnoinya, nilai kemahasiswaan semacam itu mengalami degadasi sehingga cetat-biru peran strategis mahasiswa hanya tercatat dalam buku panduan semata tanpa aksi konkrit sebagaimana harapan masyarakat. Mahasiswa cenderung diposisikan hanyalah kelompok politik yang mengesankan demonstrasi dan frontalisasi. Diskusi-diskusi politik secara masal pun cenderung pada penguatan gerakan mahasiswa yang berpotensi radikalisme. Status oposisi menjadi label mahasiswa oleh pemerintah.

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »