(Sebuah Tinjauan Perkembangbiakan KATAK)
Oleh: de_LIMA (Aktivis Peduli Cangguk)
Sering kita mendengar dalam masyarakat kita istilah “ katak dalam tempurung “, yaitu istilah yang menggambarkan keadaan dimana seseorang kurang memiliki akses terhadap informasi atau kurang memiliki wawasan. Hal ini kurang lebih sama seperti kondisi yang dialami oleh sebahagian masyarakat kita yang berada di daerah pedalaman.
Kondisi tersebut setidaknya dipengaruhi oleh beberapa hal seperti, rendah kualitas pendidikan, kemiskinan dan keterbelakangan. rendahnya kualitas pendidikan salah satu penyebabnya adalah pemerintah tidak memberika perhatian khusus kepada mereka, entah itu karena tidak mempunyai anggaran yang cukup atau memang mereka tidak terlihat karena berada “dibawah tempurung”.
Padahal dipusat ibu kota, apakah itu ibu kota propinsi, kabupaten atau kota, sarana dan prasarana pendidikan sudah agak lumayan bahkan ada sekolah-sekolah khusus seperti sekolah unggul, kejuruan dan sebagainya dan mungkin hanya diperuntukan juga kepada “orang khusus” dan “orang unggul” pula.
Banda Aceh sebagai ibu kota propinsi kita ambil contoh, begitu mudah kita menemukan disetiap sudut-sudut kota bagunan bungunan sekolah dan sarana pendidikan lainnya, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas mutakhir. Dan itu hanya dapat diakses oleh orang-orang kota yang notabenenya berpenghasilan lebih. Sementara itu di daerah pedalaman masyarakat harus puas dengan bangunan yang dindingnya terbuat dari anyaman daun kelapa dan beratapkan daun rumbia ditambah seorang guru kontrak yang harus rela mengajar dari kelas pagi sampai siang bahkan sampai sore walaupun harus menerima bayaran gaji setiap tiga bulan sekali itupun kandang sudah disunat.
Sementara itu, Karena pendapatan mereka yang (relative) rendah akan sangat susah mengakses pendidikan yang berkualitas. Bahkan kadang-kadang anak-anak usia sekolah terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena harus membantu pekerjaan orang tua untuk menambah pendapatan keluarga. Kondisi tersebutlahyang membuat mereka terbelakang dan hal ini terus terulang dari generasi ke generasi tanpa ada pihak yang tahu karena memang mereka berada “dibawah tempurung” sedang pemerintah bersembunyi dibalik gorden dalam gedung-gedung mewah.
Penulis merasa kini sudah saatnya pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota harus segera memutus mata rantai lingkaran setan tesebut. Melalui sebuah kebijakan yang memfokus pengembangan koalitas pendidikan daerah pedalaman. Sehingga kita tidak perlu lagi memdapat piala tetap pendidikan lima besar pendidikan terbobrok di Indonesia.
Anggaran untuk pendidikan sebesar 30 persen dari total APBA haruslah bisa dikelola dengan seefektif dan seefesien mungkin.
Apalagi beberapa tahun yang akan datang akan dibukanya AFTA ( ASEAN Free Trade Area), artinya semua warga negara di Asean akan bebas membuka interakasi dan melakukan perdagangan secara bebas tanpa ada hambatan. Untuk menghadapi hal ini agar mampu bersaing secara sehat dan fair masyarakat kita haruslah sudah mempunya koalitas yang memadai, sehingga istilah “Buya Krueng teudong-dong, Buya tamong meuraseuki tidak lagi terdengar.
Makan Timphan di Texas
Arus globalisasi yang diakibatkan pesatnya kemajuan teknologi adalah tuntutan alam dan tak dapat dibendung, akan banyak kebudayaan beragam rupa dari berbagai belahan dunia akan saling berintekasi, sehingga dari proses ini lahir budaya baru yang menjadi budaya global. Bagi sebahagian masyarakat kita, masuknya budaya asing apalagi budaya barat sangat dikhwatirkan, sebab dinilai dapat meurusak nilai nilai budaya setempat yang masih kental agama dengan nuasa ketimuran. Sebuah kekhawatiran yang Sangat masuk akal tentunya
Namun, menurut penulis arus globalisasi bukan suatu hal yang perlu sangat dikhawatirkan. sebab semua kita mempunyai peluang yang sama untuk menebar pengaruh budaya kita kepada orang lain, Cuma yang perlu kita safari bahwa SDM kita masih sangat lemah. Disinilah nanti akan muncul superior dan inferior. Bangsa-bangsa yang memiliki budaya yang hebat akan mampu memimpin Budaya global sementara yang bangsa bargaining budayanya rendah terpaksa bertekuk lutut mengikuti budaya superior.
Dalam amatan penulis Amerika, telah “mencuri star” untuk menjadi sang superior yang akan memimpin peradaban dunia abad 21. setidak ada beberapa hal yang merupakan langkah awal yang dilakukan oleh Amerika atau yang lebih dikenal dengan 3 F, yaitu Food, Fashion dan Fun,
Food ( Makanan), dari segi makanan Amerika telah memperkenalkan “makanan global” yang cocok dengan semua lidah orang di berbagai benua seperti Kentucky Freid Chicken (KFC), California Freid Chicken (CFC), Pizza hut, Cocacola dsb. Dan hal tersebut hari ini telah menjadi konsumsi umum masyarakat dunia, dan mudah kita jumpai outletnya sampai kedesa-desa.
Dari segi pakaian ( Fashions), juga mereka mencoba mengembangkan pakaian jeansm yang beragam bentuk mulai yang sebahagian besar sangat tidak pantas dengan budaya dan etika timar. Belem lagi potongan-potongan (model) rambut yang berwarna-warni. Pria mirip wanita, wanita mirip pria,
Bersambung………………………………………………………………………………. tunggu ya….





Selamat malam Acehku Sayang. Kata pemula.
giliran datang masa kampanye, masyarakat jadi ladang amal mereka, giliran udah naik ke kursi jabatan lupa kan dia sama orang kecil, dasar pejabat berandal.
keep on fighting kanda
cangguk…mantap!pejabat memang hobi ma cangguk, memelihara kondisi cangguk tetap sebagai cangguk dalam tempurung,….save the cangguk,keluarkan cangguk dalam tempurung….
assalamu’alaykum..
kunjungan balasan..
cangguk itu apa yach
??
Cangguk = Katak
salut buat kak de_lima……
Ayo bangkit Anak Desa………….!
Lawan Anak Kota………………….
neu tulong peubleut siat rakyat bek lagee cangguk yup bruk.ok